Hati nan suci adalah modal utama tanpa kesucian hati, teman dekat bisa menjadi musuh yang amat berbahaya, tanpa kebeningan hati, harta benda nan membuai hati bisa menjadi sumber kekesalan belaka, Tanpa kebersihan hati, istri yang baik hati bisa menjadi selimut berduri, Tanpa kejernihan hati, Tetangga yang menyenangkan bisa menjadi pendamping yang cukup menyebalkan, tanpa kemulusan hati, kehidupan bahagia bisa menjadi awal sebuah malapetaka. TANPA HATI NAN SUCI MASIH ADAKAH KEKAYAAN JIWA YANG TERSISA?
Penyucian hati menurut konsep Ahlussunnah ternyata bukan sekedar menjaga hati dari beberapa bentuk penyakit hati spesifik, seperti RIYA', SUM'AH, UJUB, TAKABUR, HASAD dan sejenisnya. Namun lebih dari itu, PENYUCIAN HATI menurut mereka juga berarti menjaga hati dari berbagai bentuk perbuatan dosa, mulai dari syirik, dosa-dosa besar, hingga dosa-dosa kecil dengan berbagai jenis dan tingkatannya.
Menurut Ahlussunnah, seperti yang ditegaskan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam bukunya Tazkiyatun-Nufus, menyucikan hati SAMA ARTINYA dengan menjaga tingkat ketakwaan. Seperti disebutkan dalam Firman Alloh SWT "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam.' (Ali 'Imran 3:102)
Agar hati menjadi bersih maka di upayakan untuk menjaga ketakwaannya. Apabila Hati sudah dipenuhi ketakwaan, niscaya akan dapat terjaga dan terkendali dari berbagai jenis kerusakan hati atau berbagai bentuk perbuatan yang mengakibatkan hati menjadi lemah dan rusak
Apa arti ketakwaan ?
Ketakwaan dalam bahasa Arab disebut at-taqwa. Asalnya dari kata wiqoyah, yang artinya penjagaan.
Jadi TAKWA menurut Tholq bin Habib adalah: " melaksanakan perintah Alloh dengan tuntunan cahaya keilmuan dari Alloh, dan dengan mengharapkan pahala-NYa. Menjauhi larangan Alloh dengan tuntunan cahaya keilmuan dari Alloh, dan karena takut terhadap siksa-Nya (Az-Zuhd Ibnul Mubarok I : 474. lihat juga al-Hilyah oleh Abu Nu'aim 1344)
Beliau menjelaskan, "Ketakwaan hanya bisa dicapai melalui amal perbuatan. Amal perbuatan hanya bisa dilakukan dengan ilmu yang cukup dan Ittiba' (mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu'Alaihi Wa Sallam)
Sementara itu ITTIBA' itu sendiri tidak ada gunanya tanpa KEIKHLASAN yakni melakukannya semata-mata karena Alloh.Tidak mungkin seseorang itu meninggalkan maksiat dikarenakan oleh ILMU FIKIH. karena meninggalkan maksiat harus dengan mengenal perbuatan maksiat itu sendiri, dan TUJUANnya hanya karena takut terhadap siksa Alloh, BUKAN mengharap pujian dari sesama manusia. orang yang secara KONSISTEN melaksanakan pesan ini, niscaya akan mendapatkan kejayaan.
Ketakwaan nyata-nyata membutuhkan proses pengendalian hati, agar hati tersebut secara konsisten terus berusaha mendorong ke arah kebajikan dan menolak berbagai bentuk keinginan jahat. semua itu harus dilakukan dengan cahaya ilmu yang dipelajari dari kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shallalahu'alaihi wa sallam.
Abu Darda' Menjelaskan, "Ketakwaan akan menjadi sempurna, bila seorang hamba berusaha bertakwa kepada Alloh meski karena perbuatan yang sebesar biji dzarroh, sehingga bisa jadi ia meninggalkan perbuatan yang dianggap halal hanya karena khawatir menjadi haram, sehingga ia terbentengi dari segala perbuatan haram.(Jami'u l-Ulum wa 'i-Hikam I:159)
Disinilah kunci dari penjagaan terhadap hati. Oleh sebab itu, Rasululloh Shallalahu'alaihi wa sallam bersabda:"Seorang muslim bersaudara dengan sesama muslim. Ia tidak boleh menzholimi atau menyakiti sesamanya tersebut" kemudian beliau menunjuk ke arah dada:"Ketakwaan itu letaknya di sini, ketakwaan itu letaknya disini. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya 14:69;Al-Haitsami dalam majma'u z-zawa-id X : 262)
Setiap kejahatan yang terjadi, setiap kecaman lisan, sentilan jari tangan, pukulan tinju, sepakan kaki, atau kezholiman-kezholiman lain yang ditujukan kepada sesama muslim, kesemuanya berasal dari hati yang busuk.yakni HATI yang kehilangan kontrol ketakwaannya, sehingga lepas kendali. Oleh sebab itu, dalam lanjutan hadist di atas Rasululloh Shallalahu'alaihi Wa sallam bersabda:"Seorang muslim akan melecehkan sesamanya sebatas keburukan yang ada dalam jiwanya. Setiap muslim haram mengusik darah, kehormatan dan harta sesama muslim. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya 14:69)
Sumber : SUCI HATI bersama Nabi Shallalahu'alaihi Wa Sallam


Tidak ada komentar:
Posting Komentar