Do'a termasuk obat yang sangat bermanfaat sekaligus musuh bagi bencana. Ia akan memerangi, mengobati, mencegah, menghilangkan, atau mengurangi bencana yang menimpa. Do'a merupakan senjata kaum Mukminin.
Ketika bersanding dengan musibah, do'a mempunyai tiga kondisi sebagai berikut:
(1) Do'a lebih kuat daripada musibah. Maka dari itu, do'a mampu mencegah terjadinya musibah.
(2) Do'a lebih lemah daripada musibah. Akibatnya, do'a terkalahkah sehingga musibah menimpa orang yang bersangkutan Akan tetapi, do'a bisa meringankan musibah tersebut meskipun hanya sedikit. (3) Satu sama lain saling menyerang dan saling menghilangkan
Terus - Menerus Dalam Do'a
Dalam kitab az-Zuhd karya Imam Ahmad disebutkan bahwasanya Qatadah bercerita:"Muwarriq berkata:"saya tidak pernah mendapatkan suatu perumpamaan bagi oarang Mukmin (dalam hal berdo'a) melainkan seperti seseorang diatas kayu yang tengah mengapung dilautan, kemudian ia berdo'a: Wahai Rabbku. Wahai Rabbku. Ia berharab semoga Allah menyelamatkannya."
Al-Auza'a menyebutkan dari az-Zuhri, dari 'Urwah, dari Aisyah Ra, ia ('Aisyah) mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda " Sesungguhnya Allah menyukai oarang-orang yang terus-menerus mengulang-ulang ketika berdo'a.
Tergesa-gesa dalam Mengharap Terkabulnya Do'a
Dari Abu Hurairah Ra, Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: " Do'a masing-masing kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata:"Saya sudah berdo'a, tetapi belum juga dikabulkan(Shaihull Bukhari No.5981)
Waktu-waktu Terkabulnya Do'a Yaitu:
(1) Sepertiga malam terakhir (2) Saat Adzan (3) Antara adzan dan iqomat (4) Setelah melaksanakan shalat wajib (5) Saat imam naik ke atas mimbar pada hari jum'at, hingga sselesai shalat Jum'at tersebut (6) Saat-saat terakhir waktu 'Ashar.
Adapun adab berdo'a:
Tergesa-gesa dalam Mengharap Terkabulnya Do'a
Dari Abu Hurairah Ra, Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: " Do'a masing-masing kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata:"Saya sudah berdo'a, tetapi belum juga dikabulkan(Shaihull Bukhari No.5981)
Waktu-waktu Terkabulnya Do'a Yaitu:
(1) Sepertiga malam terakhir (2) Saat Adzan (3) Antara adzan dan iqomat (4) Setelah melaksanakan shalat wajib (5) Saat imam naik ke atas mimbar pada hari jum'at, hingga sselesai shalat Jum'at tersebut (6) Saat-saat terakhir waktu 'Ashar.
Adapun adab berdo'a:
(1) Kekhusyu'an hati serta sikap merendahkan diri dihadapan Allah yang diiringi dengan ketundukan dan kelembutan (2) Menghadap kiblat (3) Dalam keadaan suci (4) Memulai do'anya dengan hamdalah, memuji Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW selaku hamba dan utusan-Nya, mendahulukan Taubat dan istighfar sebelum menyebutkan hajatnya, lantas menghadirkan dirinya di hadapan Allah, bersikap memelas dalam do'anya, menyerunya dengan ucapan lembut yang diiringi rasa harap dan cemas, bertawassul (memohon) kepada-Nya dengan nama-nama , sifat-sifat, dan keesaan-Nya, serta melakukan sedekah sebelum memanjatkan do'a tersebut. Sungguh, do'a semacam ini hampir tidak akan pernah tertolak.
Terlebih lagi jika do'a tersebut termasuk dalam do'a - do'a yang bersumber dari Nabi SAW sementara beliau sendiri mengabarkan bahwa do'a tersebut mengandung nama Allah yang paling agung.
Beberapa Rahasia Do'a
Do'a do'a yang dikabulkan oleh Allah SWT karena: (1) Kondisi terjepit, dengan disertai ketundukan hati kepada Allah (2) Bertepatan dengan waktu-waktu dikabulkannya do'a (3) Atas dasar kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga Allah mengabulkan do'a tersebut sebagai tanda syukur terhadap kebaikan oraang yang berdo'a ...dan banyak hal yang menyebabkan do'a tersebut terkabul
Do'a Laksana Senjata
Do'a dan ta'awwudz (memohon perlindungan kepada Allah SWT dari sesuatu) memiliki kedudukan sebagaimana layaknya senjata. Kehebatan sebuah senjata sangat bergantung kepada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya. Jika senjata tersebut adalah senjata yang sempurna, tidak cacatnya, lengan penggunanya adalah lengan yang kuat, serta tidak ada suatu penghalang, maka tentulah ia mampu dip-akai untuk menghatam dan mengalahkan musuh. Namun apabila salah satu dari tiga hal tersebut hilang, maka efeknya juga melemah dan bervkurang.
Korelasi antara Do'a dan Takdir
Apa yang ditakdirkan itu terjadi karena adanya sejumlah sebab, di antaranya adalah do'a. tidak mungkin sesuatu itu ditakdirkan terjadi begitu saja tanpa adanya sebab. ia pasti memiliki keterkaitan dengan sebab. jika seorang hamba mengerjakan sebab, maka terjadilah apa yang ditakdirkan; begitu pula jika ia tidak mengerjakannya, maka apa yang ditakdirkan itu tidak terjadi.
Barang siapa yang memahami masalah ini dan mencermatinya dengan saksama, niscaya ia akan mendapatkan manfaat yang tiada terkira. Namun orang yang hanya sekedar menyandarkan diri kepadatakdir karena kebodohan, kelemahan, kelalaian, dan kealpaan dirnya, maka tawakkalnya ini hanyalah merupakan kelemahan dan kelemahannya berubah menjadi tawakkal
Begitu juga orang yang diberi pemahaman dan petunjuk oleh Allah. Ia akan menolak takdir hukukman akhirat dengan takdir taubat, iman dan amal shalih. Hal ini setara dengan takdir yang ditakuti didunia serta kebalikannya sebab, Rabb dunia dan akhiratadalah satu, hikmah-Nya juga satu, serta tidak ada pertentangan dan penafikan antara satu sama lain.
Untuk menyempurnakan kebahagian dan keberuntungannya :
1. Ia seharusnya mengetahui rincian sebab-sebab terjadinya keburukan dan kebaikan. selain itu, seseorang mesti memiliki bashirah (pengetahuan) dalam hal tersebut menurut apa yang disaksikannya dari alam, pengalaman pribadinya dan orang lain, serta berita ummat-ummat terdahulu dan sekarang yang pernah ia dengar. Dalam hal ini adalah tadabbur al-qur'an, didalamnya disebutkan sebab-sebab terjadinya kebaikandan keburukan secara terperinci dan jelas. Selanjutnya adalah mempelajari as-Sunnah, yang tidak lain adalah saudara kandung al-Qur'an sekaligus wahyu kedua
2. Seharusnya menghindari kesalahan dirinya dalam berinteraksi dengan sebab-sebab tersebut. ini termasuk perkara yang paling penting . seorang hamba mengetahui bahwa maksiat dan kelalaian termasuk sejumlah sebab yang pasti mendatangkan kemudhratan atas dirinya, baik didunia maupoun diakhirat, Namun adakalanya jiwa mannusia menjerumuskannya kedalam kesalahan misalnya mengandalkan kep-ada maaf dan ampunan Allah. serta menunda taubat.
Banyak orang menyangka bahwa jika seseorang melakukan kemaksiatan lalu mengucapkan:"Astaghfirullah," maka dampak negatif (dosa) dari kemaksiatan tersebut akan hilang dan selesailah urusannya padahal sesuatu sebagai sebab terhapusnya dosa tidak menghalanginya untuk turut menopang sebab lain yang mampu menghapuskan dosa
Sumber : Ad-Daa Wa Ad-Dawaa - Mengenal berbagai jenis penyakit hati yang membahayakan dan resep obatnya yang Mujarab (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)
Untuk menyempurnakan kebahagian dan keberuntungannya :
1. Ia seharusnya mengetahui rincian sebab-sebab terjadinya keburukan dan kebaikan. selain itu, seseorang mesti memiliki bashirah (pengetahuan) dalam hal tersebut menurut apa yang disaksikannya dari alam, pengalaman pribadinya dan orang lain, serta berita ummat-ummat terdahulu dan sekarang yang pernah ia dengar. Dalam hal ini adalah tadabbur al-qur'an, didalamnya disebutkan sebab-sebab terjadinya kebaikandan keburukan secara terperinci dan jelas. Selanjutnya adalah mempelajari as-Sunnah, yang tidak lain adalah saudara kandung al-Qur'an sekaligus wahyu kedua
2. Seharusnya menghindari kesalahan dirinya dalam berinteraksi dengan sebab-sebab tersebut. ini termasuk perkara yang paling penting . seorang hamba mengetahui bahwa maksiat dan kelalaian termasuk sejumlah sebab yang pasti mendatangkan kemudhratan atas dirinya, baik didunia maupoun diakhirat, Namun adakalanya jiwa mannusia menjerumuskannya kedalam kesalahan misalnya mengandalkan kep-ada maaf dan ampunan Allah. serta menunda taubat.
Banyak orang menyangka bahwa jika seseorang melakukan kemaksiatan lalu mengucapkan:"Astaghfirullah," maka dampak negatif (dosa) dari kemaksiatan tersebut akan hilang dan selesailah urusannya padahal sesuatu sebagai sebab terhapusnya dosa tidak menghalanginya untuk turut menopang sebab lain yang mampu menghapuskan dosa
Sumber : Ad-Daa Wa Ad-Dawaa - Mengenal berbagai jenis penyakit hati yang membahayakan dan resep obatnya yang Mujarab (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar