Sabtu, 25 September 2010

Iman Kepada Takdir

Nabi SAW bersabda: "Tidaklah beriman seseorang hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk; meyakini bahwa apa yang telkah ditakdirkan menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang ditakdirkan tidak menimpanya tidak akan menimpanya" (Shahiih Sunan at-Tirmidzi, oleh al-Albani)

Ahlus sunnah wal Jama'ah berpendapat bahwa beriman kepada takdir tidak akan sempurna, kecuali dengan empat hal, yang dinamakan Maratibul Qadar (tingkatan Takdir) atau disebut juga Rukun Takdir. Barang siapa mengurangi salah satu darinya atau melebihkannya, maka rusaklah keimanannya kepada takdir.

TINGKATAN PERTAMA : Al-Ilm (Ilmu) : Yaitu, berimanbahwa Allah Ta'ala Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi, serta seandainya terjadi, Dia Maha Mengetahui bagaimana akan terjadi, secara Global.

Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu" (QS At-Taubah:115)


TINGKATAN KEDUA : Al-Kitabah (Pencatatan) : Yaitu Mengimani bahwa Allah telah mencatat segala apa yang telah diketahui sebelumnya dari semua takdir makhluk-Nya.

"....Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (QS.Yaasiin:12)

Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah al-Qalam (pena). Kemudian Allah berfirman: "Tulislah! Pena tersebut bertanya:"Apa yang harus saya tulis? Allah menjawab: "Tulislah takdir (semua makhluk): apa yang telah tejadi dan akan terjadi sampai akhir zaman (hari Kiamat)!" (Shahiih Sunanut Tirmidzi oleh Imam al-Albani)

TINGKATAN KETIGA : (Al-Iradah wal Masyi'ah keinginan dan kehendak), Dialah yang memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki karena rahmat-Nya dan menyesatkan orang yang dikehendaki karena hikmah-Nya

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam," (QS. At-Takwir: 29)

Nabi SAW bersabda: "sesungguhnya semua hati anak keturunan Adam pada dua jari di antara jemari ar-Rahman, bagaikan satu hati, Dia mengubahnya (membolak-balikkan ke mana saja) menurut kehendak-Nya (HR.Muslim)
TINGKATAN KEEMPAT, Al-Khalq (Penciptaan) Maksudnya, beriman bahwa sesungguhnya Allah Pencipta segala sesuatu.

Allah Ta'ala berfirman: "....Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya" (QS.Al-Furqaan :2)

Beriman bahwa sesungguhnya Allah Pencipta segala sesuatu. Tiada Pencipta dan tiada Rabb selain Dia. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dialah yang menciptakan makhluk yang berbuat sekaligus perbuatannya, serta semua yang bergerak sekaligus gerakannya.

Allah Ta'ala berfirman: "...Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya" (QS.Al-Furqaan:2)

Segala yang terjadi, berupa perbuatan baik atau jelek, iman atau kufur, dan ta'at atau maksiat telah dikehendaki, ditentukan dan diciptakan, oleh Allah.

Allah SWT berfirman : "Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu, Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (QS.Az-Zumar:7)

Namun, keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah karena kesempurnaan rahmat-Nya. sebab Dia telah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Meskipun demikian, keburukan itu terjadi dalam hal-hal yang telah menjadi ketentuan-Nya dan sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya.

Allah SWT berfirman: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri...(QS.An-Nisaa' : 79)

"....Aku sekali-kali tidak menganiyaya hamba-hamba-ku." (QS.Qaaf:29)

Allah menjadikan manusia akal untuk membedakan antara baik dan yang buruk.Manusia tidak dipaksa, tetapi dia mempunyai ikhtiar dan kehendak, maka dia bebas memilih dalam segala perbuatan dan keyakinannya.

Hanya saja, kehendak manusia itu mengikuti kehendak Allah. Segala yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki pasti tidak akan terjadi.

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa takdir itu merupakan rahasia Allah terhadap makhluk-Nya. Tidak ada Malaikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus-Nya yang mengetahui hal itu. Mendalami dan menyelami adalah sesat Allah Ta'ala telah merahasiakan ilmu takdir dari makhluk-Nya danmelarang mereka untuk mencapainya




























Tidak ada komentar: