karena dosa kedekatan iblis dengan Allah SWT berubah jadi jauh; rahmat menjadi laknat;keindahan menjadi kejelekan; Surga menjadi Neraka yang berkobar-kobar; rahmat menjadi laknat; Iman menjadi kekufuran; pertolongan menjadi permusuhan; penentangan, gema, tasbih, tahlil, dan penyucian menjadi gema kekufuran, kesyirikan, kedustaan, dan kebejatan, serta pakaian keimanan menjadi pakaian kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Hinalah iblis dihadapan Allah SWT, dengan serendah-rendahnya, dan jatuhlah posisinya dalam pandangan-Nya. Kemarahan dan kemurkaan Rabb menimpanya kemudian membinasakannya.
DAMPAK-DAMPAK BURUK MAKSIAT
Maksiat Menghalangi Masuknya Ilmu
Ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan kedalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.
Imam asy-Syafi'i berakata dalam sya'irnya: dia berkata:"Ketahuilah sesungguhnya ilmu itu karunia dan karunia Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat"
Maksiat Menghalangi Masuknya Ilmu
Takwa kepada Allah SWT adalah perkara yang mendatangkan rizki, maka meninggalkan takwa akan menyebabkan kefakiran. Tidak ada yang dapat menarik rizki, kecuali dengan meninggalkan maksiat.
Maksiat Menyebabkan Kehampaan Hati dari Mengingat Allah
Kehampaan hati yang dirasakan oleh pelaku maksiat, antara dirinya dan Allah, sama sekali tidak didapat dibandingkan dengan kelezatan apapun. Meskipun seluruh kelezatan dunia terkumpul padanya, tetap saja tidak akan mampu menutupi rasa hampa tersebut.
Sekiranya dosa-dosa tidak ditinggalkan melainkan untuk menghindari kehampaan tersebut, tentulah hal itu sudah layak dijadikan alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkannya
Abdullah bin 'Abbas berkata: Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar diwajah, cahaya dihati, kelapangan dalam reziki, kekuatan pada tbuh, serta cinta dihati para makhluk. Sesungguhnya keburukan memiliki tanda hitam diwajah, kegelapan dihati, kelemahan ditubuh, kekurangan dalam rizki, serta kebencian dihati para makhluk.
Maksiat dikatakan mengurangi umur karena hakikat kehidupan sebenarnya adalah hidupnya hati. Oleh karena itu, Allah menyebut orang kafir sebagai orang mati, tidak hidup, sebagaimana firman-Nya di (QS.An-Nahl:21)
Jadi, pada hakikatnya, yang dimaksud dengan kehidupan adalah hidupnya hati. Seberapa lama hati itu hidup maka sepanjang itulah umur manusia. ia tidak lain hanyalah waktu-waktu yang dipergunakan untuk mengingat Allah. Pada saat itulah, takwa dan kebaikannya bertambah. Inilah hakikat umurnya, yang tiada lagi umur selainnya.
Maksiat mewariskan kehinaan
Sebagian salaf berdo'a: Ya Allah, muliakanlah aku dengan mentaati-Mu dan jangan hinakan aku dengan mendurhakai-Mu
Abdullah bin al-Mubarak berkata:
Kau melihat dosa mematikan hati
dan kecanduan dengannya mewariskan kehinaan.
Meninggalkan dosa adalah kehidupan hati
maka lebih baik bagimu mendurhakai kemaksiatan.
Bukankah yang merusak agama adalah raja,
para ulama yang buruk, serta para pendetanya
Sekiranya dosa-dosa tidak ditinggalkan melainkan untuk menghindari kehampaan tersebut, tentulah hal itu sudah layak dijadikan alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkannya
Abdullah bin 'Abbas berkata: Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar diwajah, cahaya dihati, kelapangan dalam reziki, kekuatan pada tbuh, serta cinta dihati para makhluk. Sesungguhnya keburukan memiliki tanda hitam diwajah, kegelapan dihati, kelemahan ditubuh, kekurangan dalam rizki, serta kebencian dihati para makhluk.
Maksiat dikatakan mengurangi umur karena hakikat kehidupan sebenarnya adalah hidupnya hati. Oleh karena itu, Allah menyebut orang kafir sebagai orang mati, tidak hidup, sebagaimana firman-Nya di (QS.An-Nahl:21)
Jadi, pada hakikatnya, yang dimaksud dengan kehidupan adalah hidupnya hati. Seberapa lama hati itu hidup maka sepanjang itulah umur manusia. ia tidak lain hanyalah waktu-waktu yang dipergunakan untuk mengingat Allah. Pada saat itulah, takwa dan kebaikannya bertambah. Inilah hakikat umurnya, yang tiada lagi umur selainnya.
Maksiat mewariskan kehinaan
Sebagian salaf berdo'a: Ya Allah, muliakanlah aku dengan mentaati-Mu dan jangan hinakan aku dengan mendurhakai-Mu
Abdullah bin al-Mubarak berkata:
Kau melihat dosa mematikan hati
dan kecanduan dengannya mewariskan kehinaan.
Meninggalkan dosa adalah kehidupan hati
maka lebih baik bagimu mendurhakai kemaksiatan.
Bukankah yang merusak agama adalah raja,
para ulama yang buruk, serta para pendetanya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar