KEUTAMAAN LAILATUR QADAR1. Pada malam itu segala urusan yang telah ditetapkan disebutkan secara rinci. Allah Azza Wa Jalla berfirman: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS.Ad-Dukhaan:4)
Ibnu Abbas Radyallahuanhu berkata: "Pada Lailatul Qadar, segala sesuatu yang akan terjadi selama setahun (kedepan)-berupa kebaikan, kejahatan, rizki, ajal, hingga orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji-dituliskan dari Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh)
2. Berlipat gandanya (pahala) amal yang dikerjakan serta diampuninya dosa orang yang beribadah pada malam tersebut. "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemulian itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS.Al-Qadr: 2-3)
3. Diturunkannya al-Qur-an al-Karim
Al-Qur-an al karim yang mengandung petunjuk bagi ummat manusia dan kebahagian mereka didunia dan di akhirat-diturunkan pada malam tersebut, dan inilah diantara keutamaan dan keberkahan Lailatul Qadar.
4. Turunnya Para Malaikat.
Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya: Yaitu, banyaknya Malaikat yang turun pada malam ini, karena meruahnya keberkahan. Mereka turun bersamaan dengan turunnya keberkahan dan rahmat. sebagaimana turunnya mereka ketika ada yang membaca al-qur'an dan berkelilingnya mereka di halaqah-halaqah dzikir, serta peletakan sayap-sayap mereka untuk seorang penuntut ilmu dengan benar sebagai penghormatan terhadapnya.
5. Malam itu penuh dengan keselamatan dan kebaikan.
Kapan Terjadinya Lailatul Qadar
Aisyah Radyallahu'anhu, bahwa Rasulullah Shallalahu'alaihi wa Sallam bersabda "Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil sepuluh malam terakhir dibulan Ramadhan"
Tanda Lailatul Qadar yang paling shahih adalah matahari terbit tanpa sinar pada pagi harinya, Ibnul Jauzi berkata " Adapun hikmah dirahasiakannya malam ini adalah untuk membuktikan kesungguhan para hamba dalam beribadah pada malam-malam Ramadhan karena berharap untuk menjumpainya, sebagaimana hikmah dirahasiakannya waktu terkabulnya do'a pada hari jum'at.
Sekelumit Tentang Lailatul Qadar
Defenisi Lailatul Qadar:Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al-Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadr, surat ke-97 dalam Al-Qur'an.
Secara terminologi Lailatul Qadar diartikan sebagai "Malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan (83,3 Tahun)". Sebagaimana Allah SWT firmankan dalam surat Al-Qadr.
A. ETIMOLOGI
Secara etimologi: Lailatul Qadar terdiri dari dua suku kata "Lailah" dan "Al-Qadar". “Lailah" berarti malam. Sedangkan kata "Al-Qadar" mempunyai beberapa arti:
1. Al-Qadaru yang berarti At-Ta'dzim (التعظيم): kemuliaan, atau keagungan makna ini seseuai dengan firman Allah:
وما قدروا الله حق قدره
- "Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya." (QS. Al-An’am: 91)
1. Turunnya Al-Qur'an pada malam itu yang diiringi dengan turunnya para Malaikat.
2. Turunnya berkah, rahmah, dan maghfirah
3. Atau karena orang yang menghidupkan malam itu dengan ibadah akan menjadi orang yang mulia.
2. Al-Qadaru yang berarti At-Tadhyiiq (التضييق) : penyempitan, pembatasan. Makna ini sesuai dengan firman Allah:
قدر عليه رزقه
- " ….Membatasi rizkinya." (QS. Al-Fajr: 16)
3. Al-Qadaru berarti penentuan taqdir, ketetapan. Sesuai dengan firman Allah SWT:
إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم
- "Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu ditentukan segala urusan yang penuh hikmah". (QS. Ad-Dukhan: 3-4)
Sebuah malam dari malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, diturunkan di dalamnya takdir-takdir seluruh makhluk ke langit dunia, Allah mengabulkan doa di dalamnya dan ia adalah malam yang telah diturunkan Al Quran yang Agung. Lihat Mu'jam lughat al-Fuqaha, hal: 326.
Ibnu al-Mulaqqin rahimahullah berkata: "Telah bersepakat beberapa ulama yang dianggap pendapatnya akan adanya selalu lailatul qadar sampai akhir masa". Lihat: al-i'lam bi fawa-idi 'umdat al-ahkam, 5/397.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah, sebuah hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, beliau bercerita: "Pernah Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wasallam keluar rumah untuk memberitahukan kepada kami tentang lailatul qadar, ketika itu dua orang dari kaum muslimin sedang bertengkar, kemudian beliau bersabda: "Tadi aku keluar ingin memberitahukan kepada kalian tentang lailatul qadar tetapi si fulan dan si fulan bertengkar lalu ingatan itu hilang, semoga itu lebih baik bagi kalian, maka carilah lailatul qadar di kesembilan, ketujuh dan kelima". HR Bukhari, no. 2023.
Akhir hadits ini menjelaskan awalnya, bahwa lailatul qadar akan selalu ada sampai hari kiamat.
Tidak diragukan lagi, Lailatul Qadar di bulan Ramadhan…
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
{ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }
Artinya: "Bulan Ramadhan adalan bulan yang diturunkan di dalamnya al-Quran". QS. al-Baqarah: 185dan al-Quran diturunkan di bulan Ramadhan, dan Allah Ta'ala berfirman:
{ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر }
Artinya: "Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Quran pada lailatul qadar". QS. al-Qadar:1. Jika dikumpulkan dua ayat ini maka akan menjadi sangat jelas bahwa lailatul qadar di bulan Ramadhan dengan yakin tanpa ada keraguan di dalamnya. Lihat: al-i'lam bi fawa-idi 'Umdat al-Ahkam, karya ibnul Mulaqqin, 5/399 dan asy-Syarh al-Mumti', karya Ibnu 'Utsaimin, 6/491.
Dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu telah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
« أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ
لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ». وفي لفظ أحمد: ((... تفتح فيه أبواب الجنة)) بدلاً من ((أبواب السماء))
لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ». وفي لفظ أحمد: ((... تفتح فيه أبواب الجنة)) بدلاً من ((أبواب السماء))
Artinya: "Telah datang kepada kalian Ramadhan bulan yang penuh berkah, Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan berpuasa di dalamnya, di dalamnya dibuka pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu para pemimpin setan, di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebh baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka ia benar-benar telah diharamkan kebaikan apapun". Di dalam riwayat Ahmad: "Di dalamnya dibuka pintu-pintu surga", sebagai ganti lafazh: "pintu-pintu langit". HR. an-Nasai, no. 2108 dan Ahmad, no. 7148 dan dishahikan oleh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah, 2/456.
Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, tanpa ada keraguan…
Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut:
1ـ حديث عائشة رضي الله عنها قالت:قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - :(( تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ))،
وفي رواية للبخاري: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُجَاوِرُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، وَيَقُولُ « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى
الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ »
وفي رواية للبخاري: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُجَاوِرُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، وَيَقُولُ « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى
الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ »
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersungguh-sungguhlah mencari lailatul qadar di sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan", di dalam riwayat Bukhari: "Senantiasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf di sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, beliau bersabda: "Bersungguh-sungguh untuk mencari lailatul qadar di sepuluh terakhir bulan Ramadhan". Di dalam riwayat Bukhari: "Carilah…". HR. Bukhari, no. 2020 dan Muslim, no. 1196.
Lailatul Qadar lebih ditekankan adanya di malam-malam ganjil daripada malam genap:
Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut:
1- عن عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ »
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersungguh-sungguhlah mencari lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan". HR. Bukhari dan Muslim2- حديث أبي سعيد الخدري - رضي الله عنه - ، أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال:: ((إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا ، فَالْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى الْوَتْرِ... )) .
Artinya: "Abu Sa'id al-Khudry radhiyallahu 'anhu bercerita: "Bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar lalu dilupakan dariku, maka carilah di malam ganjil dari sepuluh terakhir". HR. Bukhari, no. 2016 dan Muslim, no. 1167.Sebagian tanda-tanda Lailatul Qadar:
- 1. Di pagi harinya, matahari terbit tidak memancarkan cahaya yang menyengat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لاَ شُعَاعَ لَهَا
Artinya: "Matahari terbit pada harinya tidak mempunyai sinar". Hadits riwayat Muslim, no. 1762.Dalam Lafazh lain:
تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِثْلَ الطَّسْتِ لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ.
Artinya: "Matahari terbit pagi hari dari malam qadar seperti baskom, tidak mempunyai sinar sampai meninggi". HR. Abu Daud, no. 1378 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Abi Daud, 1/380.- 2. Malam yang cerah, tidak panas tidak juga dingin, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إني كنت أريت ليلة القدر ثم نسيتها و هي في العشر الأواخر من ليتلها و هي لية طلقة بلجة لا حارة و لا باردة كأن فيها قمرا يفضح كواكبها لا يخرج شيطانها حتى يضيء فجرها
Artinya: "Sesungguhnya aku diperlihatkan lalilatul Qadar kemudian dilupakan dariku dan ia ada di sepuluh terakhir (dari bulan Ramadhan) dan ia adalah malam yang baik dan cerah, tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan di dalamnya ada bulan purnama yang menerangi bintang-bintang, syetan-syetan tidak keluar sampai terbit fajar". HR. Ibnu Khuzaimah, 3/330 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam koreksian beliau akan shahih Ibnu Khuzaimah, 3/330.ليلة طلقة لا حارة و لا باردة تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة
Artinya: "Lailatul Qadar tidak panas tidak juga dingin matahari pagi harinya bersinar lemah kemerah-merahan". HR. Ibnu Khuzaimah, 3/332 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami', no. 5351.- 3. Tidak ada bintang jatuh, bulan pada malam itu seperti bulan purnama, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ
Artinya: "Sesungguhnya tanda lailatul qadar bahwasanya adalah malam yang bersih cerah, seakan-akan di dalamnya bulan terang tenang, tidak panas tidak juga dingin, dan tidak boleh bintang dijatuhkan di dalamnya sampai pagi, dan sesungguhnya tandanya adalah matahari pagi harinya terbit sejajar tidak mempunyai sinar seperti bulan pada malam purnama dan tidak halal bagi syetan untuk keluar bersamaan dengannya pada malam itu". HR. Ahmad, no. 22765.Hendaknya memperbanyak membaca doa اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى pada Lailatul Qadar:
Hal ini berdasarkan sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو؟ قَالَ « تَقُولِينَ: ».
"Wahai Rasulullah, jika aku bertepatan akan lailatul qadar, apakah yang aku baca?", beliau bersabda: "Hendaknya kamu mengucapkan: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Artinya: "Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf (dari kesalahan), mencintai maaf, maka maafkanlah aku (dari kesalahan-kesalahanku)". HR Ibnu Majah, no. 3982.Semoga hal-hal berikut menggugah seseorang mencari Lailatul Qadar:
- 1. Allah telah menurunkan di dalamnya al-Quran yang Agung, yang dengannya terdapat petunjuk bagi manusi dan jin dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat, Allah Ta'ala berfirman:
{ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر }
Artinya: "Sungguh Kami telah menurukan (al-Quran) pada lailtul qadar". QS. al-Qadar:1.- 2. Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah, Allah Ta'ala berfirman:
{ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِين}
Artinya: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan". QS. ad-Dukhan: 3.- 3. Di dalamnya dijelaskan setiap perkara yang himah, Allah Ta'ala berfirman:
{فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيم * أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِين* رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم }
Artinya: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". QS. ad-Dukhan 4-6. Disebutkan pada lailatul qadar apa yang akan terjadi selama setahun dari lauh al-Mahfuzh, baik berupa rizki, kematian, keburukan dan kebaikan.
- 4. Beramal ibadah di dalamnya lebih baik daripada beramal ibadah di seribu bulan, Allah Ta'ala berfirman:
{ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر }
Artinya: "Lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan". QS. al-Qadar:3. maksudnya adalah lebih baik di dalam keutamaan, kemulian dan banyaknya pahala serta ganjaran.
Oleh sebab itulah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
Artinya: "Barangsiapa yang beribadah pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni yang telah lau dari dosanya". HR. Bukhari, no. 1901Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
« لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»
Artinya: "…di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka ia benar-benar telah diharamkan kebaikan apapun". HR. an-Nasai, no. 2108 dan Ahmad, no. 7148 dan dishahikan oleh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah, 2/456.Dan di dalam hadits Anas radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memasuki bulan Ramadhan dan bersabda:
« إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ »
Artinya: "Sesungguhnya bulan ini telah mendatangi kalian dan di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka ia benar-benar telah diharamkan kebaikan seluruhnya, dan tidak ada orang yang diharamkan dari kebaikannya kecuali orang yang sangat merugi". HR. Ibnu Majah, no. 1644 dan di shahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah, 2/159.- 5. Pengagungan lailatul qadar di sisi Allah Ta'ala, yang menunjukkan hal ini adalah pertanyaan di dalam Firman-Nya:
{ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْر }
Sesungguhnya hal ini menunjukkan kepada sebuah pengagungan dan pemuliaan, Ibnu Uyainah berkata: "Apa saja yang disebutkan di dalam Al Quran ((وما أدراك)) maka Dia telah memberitahukannya, apa saja yang disebutkan di dalam Al Quran((وما يدريك)) maka sesungguhnya tidak diketahui. HR Bukhari, no 2014.- 6. Para Malaikat dan Jibril turun pada lailatul qadar, dan mereka tidak turun kecuali membawa kebaikan, berkah dan rahmat. Allah Ta'ala berfirman:
{ تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْر }
Artinya: "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". QS. al-Qadr: 4Telah disebutkan di dalam sebuah hadits:
« إنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِى الأَرْضِ أَكْثَرُ مِن عَدَدِ الْحَصَى »
Artinya: "Sesungguhnya para malaikat pada malam itu jumlahnya di bumi lebih banyak daripada bilangan batu-batu kerikil". HR. Ahmad, no. 11019 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Silsilah al-ahadits ash-shahihah, no. 2205.- 7. Lailatul qadar adalah keselamatan/kesejahteraan dikarenakan saking banyaknya di dalamnya yang selamat dari hukuman dan siksaan, disebabkan oleh apa yang telah dilakukan oleh seorang hamba berupa ketaatan-ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, Allah Ta'ala berfirman:
{ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر }
Artinya: "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". QS. al-Qadr:5.- 8. Di dalam lailatul qadar Allah telah menurunkan sebuah surat yang akan selalu di baca sampai hari kiamat, Allah Ta'ala berfirman:
{ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْر * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر * تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْر * سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر }
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan". "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?". "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan". "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". QS. al-Qadr: 1-5. - 9. Barangsiapa yang beribadah pada lailatul qadar karena iman dan pengharapan pahala, niscaya diampuni yang telah lalu dari dosanya, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. 10. Barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka sungguh ia telah diharamkan dari kebaikan seluruhnya dan tidak diharamkan akan kebaikannya kecuali orang yang sangat merugi. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas. 11. Lailatul qadar adalah malam yang paling utama dalam setahun, karena beramal shalih di dalamnya lebih baik dari pada seribu bulan, apapun bentuk ibadah pada lailatul qadar lebih baik daripada beramal pada 83 tahun 4 bulan, ini adalah keutamaan yang luar biasa dan ganjaran yang sangat besar. Sedangkan malam Jum'at adalah malam yang paling utama selama seminggu, dan hari yang paling utaman selama setahun adalah hari 'iedul Adha dan hari Arafah, dan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah lebih utama daripada sepuluh hari terkahir di bulan Ramadhan, sedangkan malam, maka sepuluh malam terkahir di bulan Ramadhan lebih baik daripada sepuluh malam dari bulan Dzulhijjah.
Bukanlah keharusan lailatul qadar bisa dilihat, akan tetapi jika seorang muslim bersungguh-sungguh di dalam mencarinya di seluruh malam-malam dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan maka sungguh ia telah mendapatkannya dan mendapatkan keutamaan yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi jika seorang melihatnya, maka lebih baik dia sembunyikan dan tidak memberitahukannya, Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah menyebutkan sebagaimana yang dinukilkan dari kitab Al Hawi: "Hikmah dari anjuran menyembunyikan lailatul qadar adalah bahwasanya ia adalah karamah (pemuliaan) dan sebuah karamah semestinya disembunyikan tanpa ada perselisihan diantara para peniti jalan Allah, jika dilihat dari sisi ingin ta'ajjub dengan diri sendiri dan tidak aman hilangnya karamah tersebut, jika dilihat dari sisi bahwasanya ia tidak aman dari sifat riya' dan jika dilihat dari sisi adab, maka janganlah menyibukkan diri dengan menyebutkannya kepada orang-orang sehingga lupa bersyukur kepada, dan jika dilihat dari sisi bahwa dia tidak aman dari sebuah kedengkian, maka hal ini akan menjadikan orang lain masuk ke dalam sebuah larangan. Dan hendaknya ia mengambil pelajaran dari perkataan Ya'qub:
{ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِين }
Oelh sebab itu, lebih utama dia sembunyikan dan tidak memberitahukannya bagi siapa yang telah melihat lailatul qadar. Lihat: Fathal-Bari, karya Ibnu Hajar, 4/268, al-Majmu' karya an-Nawawi, 6/461, al-Mausu'ah al- Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 35/368.
Rasulullah Shallalahu'alihi Wa Sallam bersabda, "Pagi hari setelah malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar, seakan-akan ia benjana (baskom) hingga ia meninggi." (HR Ahmad & Muslim)
Riwayat lain mengenai Lailatul Qadar besumber dari Ibnu Abbas, dia menuturkan bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, "Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak panas dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari tampak lemah dan merah." (HR Ibnu Khuzaimah, al Bazzar). Sanad hadish ini Hasan.
Riwayat lain mengenai Lailatul Qadar besumber dari Ibnu Abbas, dia menuturkan bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, "Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak panas dan tidak pula dingin. Pada pagi harinya matahari tampak lemah dan merah." (HR Ibnu Khuzaimah, al Bazzar). Sanad hadish ini Hasan.
Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al-Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadr, surat ke-97 dalam Al-Qur'an.
Secara terminologi Lailatul Qadar diartikan sebagai "Malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan (83,3 Tahun)". Sebagaimana Allah SWT firmankan dalam surat Al-Qadr.
B. KEMUNGKINAN TERJADINYA LAILATUL QADAR
Ada beberapa pendapat ulama tentang kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar :
1. Lailatul Qadar sudah diangkat dan tidak akan terjadi lagi, pendapat ini dinisbahkan kepada Syi'ah. Pendapat ini dibantah dengan riwayat :
عن عبد الله بن يحنس قلت لأبي هريرة : زعموا أن ليلة القدر رفعت. قال : كذب من قال ذلك.
3. Lailatul Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. ini pendapat sebagian besar para ulama.
C. WAKTU TERJADINYA LAILATUL QADAR
Terjadi pada malam ke-23, Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Mu'awiyah ra, ia berkata:
Terjadi pada malam ke-27.
Diriwayatkan Imam Muslim, dari Abi Hurairah ra, ia berkata:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَز
Untuk lebih jelasnya mengenai berbagai pendapat ulama tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar, bisa dilihat dalam kitab "Fathul Bari" karangan Ibnu Hajar pada bab "Taharra Lailatul Qadar fil Witri min Al-'Asyri Al-Awaakhir"
Adapun hikmah disamarkannya waktu Lailatul Qadar adalah guna menjadikan manusia lebih bersungguh-sungguh dalam menggapainya.
D. KEUTAMAAN LAILATUL QADAR
Ada beberapa riwayat tentang keutamaan Lailatul Qadar :
1. Anas bin Malik ra menyebutkan ketika mengomentari ayat pertama surat Al-Qadar, bahwa yang dimaksud dengan keutamaan (Al-Qadar) di situ adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, dan zikir serta amal sosial (seperti sedekah dan zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam Lailatul Qadar sendiri).
2. Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW, bahwa sesungguhnya Allah SWT mengaruniakan ”Lailatul Qadar” untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.
3. Rasulullah Shallalahu'alihi Wa Sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari:
5. Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan Al-Hasan Al-Bashri, katanya:
1. Malam Lailatul Qadar merupakan malam keutamaan yang khusus diberikan kepada Umat Nabi Muhammad Shallalahu'alhi Wa Sallam saja.
2. Malam diturunkannya Al-Qur'an.
3. Malam turunnya para Malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari kerikil di bumi, mereka memberi ucapan selamat kepada orang-orang yang menghidupkan malam dengan Ibadah.
4. Diturunkannya berkah, rahmat dan maghfirah, dan Allah SWT menerima taubat setiap pendosa yang bertaubat.
5. Dibukanya pintu-pintu langit, sehingga komunikasi hamba yang berdo'a dan berzikir tidak lagi terhalang.
6. Setiap Amal kebajikan yang dilakukan pada malam itu bernilai pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan waktu lain.
E. MENGHIDUPKAN LAILATUL QADAR DENGAN IBADAH
1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari bulan Ramadhan, dengan menjauhkan diri dari semua bentuk dosa dan maksiat. Bagi yang sudah berkeluarga hendaknya mengikut sertakan keluarga dalam ibadah ini.
2. Melakukan i'tikaf semampu dan sekuatnya. Seperti yang dilakukan Rasulullah SAW.
3. Menghidupkan malam dengan Qiyam Al-Lail, zikir dan tilawah Al-Qur'an.
4. Bersedekah dan berbagi rezeki.
5. Memperbanyak do'a memohon ampunan dan keselamatan dari Allah SWT. Dengan bacaan:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah kepada Siti 'Aisyah ra (seperti hadits yang diriwayatkan: Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu majah)
F. TANDA-TANDA/CIRI-CIRI LAILATUL QADAR
Dinamakan Lailatul Qadar karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:
1. Sabda Rasulullah Shallalahu'alihi Wa Sallam :
Lailatul Qadar merupakan rahasia Allah SWT. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah Shallalahu'alaihi wa Sallam :
Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya Lailatul Qadar itu kecuali Allah SWT maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beri’tikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
CIRI-CIRI ORANG YANG MENDAPATKAN LAILATUL QADAR
Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Wallahu A’lam
KESALAHAN-KESALAHAN DI SEPUTAR LAILATUL QADAR
Oleh: Syaikh Masyhur bin Hasan Salman
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada Lailatul Qadar itu banyak sekali, jarang yang bisa selamat kecuali yang dipelihara Allah. Di antaranya kesalahan-kesalahan itu:
1. Sibuk mencari dan menyelidiki keberadaannya.
Sibuk mengamati tanda-tanda Lailatur Qadar, sehingga meninggalkan ibadah ataupun perbuatan taat pada malam itu. Betapa banyak orang yang lupa membaca Al-Qur'an, zikir dan lupa mencari ilmu karena sibuk mengamati tanda-tanda Lailatul Qadar. Menjelang matahari terbit, terkadang kita dapati ada yang sibuk memperhatikan dan mengamati matahari untuk mencari tahu, apakah sinar matahari pagi ini terik ataukah tidak. Mestinya orang-orang ini memperhatikan pesan Rasulullah SAW dalam sabda beliau:
Mereka mengatakan:
Dari uraian di atas, dapat diketahui kekeliruan sebagian orang yang giat beribadah, khususnya qiyamul lail, atau ibadah secara umum pada malam kedua puluh tujuh, dengan memastikan atau seakan memastikan, malam itu adalah Lailatul Qadar. Selanjutnya mereka meninggalkan qiyamul lail dan tidak lagi bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan pada malam-malam lainnya, karena mengira dengan menghidupkan malam ini (malam ke-27), mereka telah mendapatkan pahala ibadah yang lebih baik dari ibadah seribu bulan. Persepsi yang keliru ini menggiring banyak orang untuk berlebih-lebihan dalam melakukan ketaatan pada malam ini. Di antara mereka ada yang tidak tidur, bahkan tidak henti-hentinya shalat di samping memaksakan diri tidak tidur. Ada juga yang shalat dan memperpanjang waktu berdirinya, padahal sedang berjuang keras melawan kantuk, sehingga ada di antara mereka yang tertidur dalam sujudnya. Dalam kasus ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah SAW yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita -berkat karunia dan nikmat-Nya.
2. Di antara kesalahan sebagian kaum muslimin pada malam ini, yaitu sibuk mengatur acara, menyampaikan ceramah.
Sebagian lagi sibuk dengan nasyid-nasyid dan nyanyian puji-pujian, sehingga meninggalkan perbuatan taat. Anda bisa saksikan, ada orang yang begitu bersemangat, berkeliling ke masjid-masjid dengan menyampaikan berita terkini, serta bagaimana upaya pemecahannya. Itu dilakukan hingga menyebabkan pemanfaatan malam itu tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan syariat.
3. Di antara kekeliruan sebagian kaum muslimin yaitu mengerjakan ibadah khusus pada malam itu seperti shalat khusus Lailatul Qadar.
Sebagian lagi senantiasa mengerjakan shalat tasbih secara berjamaah padahal tidak ada dalilnya. Sebagian lagi melaksanakan shalat hifdzul qur'an, padahal tidak ada dasarnya.
Pelanggaran-pelanggaran dan kekeliruan yang berkaitan dengan Lailatul Qadar --yang dilakukan oleh sebagian kaum muslmin-- sangat banyak dan beragam. Kalau kita teliti dan bahas tuntas, tentu pembicaraan ini akan menjadi panjang. Apa yang kami sampaikan di sini baru sebagian kecil saja, semoga bermanfaat bagi penuntut ilmu, pendamba kebenaran dan pencari Al-Haq.
Penutup :
Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu bonus akhirat yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan. Adalah pada 10 hari pertama Allah SWT menurunkan Rahmat-Nya, pada 10 hari kedua diturunkannya maghfirah. Lalu di 10 hari terakhir diturunkannya pembebasan dari api neraka. Ditambah turunnya Lailatul Qadar pada hari-hari ganjil di 10 hari terakhir, malam di mana pahala amal kebajikan yang dilakukan hamba yang beriman dilipatgandakan. Maka lengkap sudah bonus yang Allah SWT berikan kepada Umat Nabi Muhammad SAW ini. Tinggal kita berusaha untuk mendapatkan sebanyak yang kita bisa.
Satu hal yang perlu dicatat bahwa bonus-bonus akhirat ini tidak diundi, dan tidak diperuntukkan bagi golongan, suku, dan ras tertentu, sehingga setiap orang berhak mendapatkannya, sesuai dengan usahanya masing-masing.
Secara terminologi Lailatul Qadar diartikan sebagai "Malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan (83,3 Tahun)". Sebagaimana Allah SWT firmankan dalam surat Al-Qadr.
B. KEMUNGKINAN TERJADINYA LAILATUL QADAR
Ada beberapa pendapat ulama tentang kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar :
1. Lailatul Qadar sudah diangkat dan tidak akan terjadi lagi, pendapat ini dinisbahkan kepada Syi'ah. Pendapat ini dibantah dengan riwayat :
عن عبد الله بن يحنس قلت لأبي هريرة : زعموا أن ليلة القدر رفعت. قال : كذب من قال ذلك.
- Dari Abdillah bin yahnas, aku telah berkata kepada Abu Hurairah: "Orang-orang telah menyangka bahwa Lailatul Qadar telah diangkat." Beliau berkata: “Telah berdusta orang yang berkata seperti itu".
3. Lailatul Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. ini pendapat sebagian besar para ulama.
C. WAKTU TERJADINYA LAILATUL QADAR
Terjadi pada malam ke-23, Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Mu'awiyah ra, ia berkata:
- "Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-23 Ramadhan".
- "Sesungguhnya ia (Rasulullah) membangunkan keluarganya pada malam ke-23."
Terjadi pada malam ke-27.
Diriwayatkan Imam Muslim, dari Abi Hurairah ra, ia berkata:
- "Kita saling mengingatkan Lailatul Qadar". Rasulullah SAW bersabda: "Siapakah di antara kalian yang mengingat ketika bulan terbit seperti sepotong mangkuk besar?" Berkata Abu Hasan Al-Farisi: "Yaitu malam ke-27 di mana bulan terbit dengan sifat tersebut".
Terjadi pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dan inilah pendapat jumhur ulama. Sebagaimana beberapa hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, salah satunya:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَز
Untuk lebih jelasnya mengenai berbagai pendapat ulama tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar, bisa dilihat dalam kitab "Fathul Bari" karangan Ibnu Hajar pada bab "Taharra Lailatul Qadar fil Witri min Al-'Asyri Al-Awaakhir"
Adapun hikmah disamarkannya waktu Lailatul Qadar adalah guna menjadikan manusia lebih bersungguh-sungguh dalam menggapainya.
D. KEUTAMAAN LAILATUL QADAR
Ada beberapa riwayat tentang keutamaan Lailatul Qadar :
1. Anas bin Malik ra menyebutkan ketika mengomentari ayat pertama surat Al-Qadar, bahwa yang dimaksud dengan keutamaan (Al-Qadar) di situ adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, dan zikir serta amal sosial (seperti sedekah dan zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam Lailatul Qadar sendiri).
2. Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW, bahwa sesungguhnya Allah SWT mengaruniakan ”Lailatul Qadar” untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.
3. Rasulullah Shallalahu'alihi Wa Sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari:
- "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan keikhlasan karena Allah SWT maka ia akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat (Tarawih, Tahajjud) pada malam Lailatul Qadar, maka ia akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu".
5. Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan Al-Hasan Al-Bashri, katanya:
- "Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ‘ Lailatul Qadar’, karena Lailatul Qadar lebih utama dari (amalan) seribu bulan”.
1. Malam Lailatul Qadar merupakan malam keutamaan yang khusus diberikan kepada Umat Nabi Muhammad Shallalahu'alhi Wa Sallam saja.
2. Malam diturunkannya Al-Qur'an.
3. Malam turunnya para Malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari kerikil di bumi, mereka memberi ucapan selamat kepada orang-orang yang menghidupkan malam dengan Ibadah.
4. Diturunkannya berkah, rahmat dan maghfirah, dan Allah SWT menerima taubat setiap pendosa yang bertaubat.
5. Dibukanya pintu-pintu langit, sehingga komunikasi hamba yang berdo'a dan berzikir tidak lagi terhalang.
6. Setiap Amal kebajikan yang dilakukan pada malam itu bernilai pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan waktu lain.
E. MENGHIDUPKAN LAILATUL QADAR DENGAN IBADAH
1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari bulan Ramadhan, dengan menjauhkan diri dari semua bentuk dosa dan maksiat. Bagi yang sudah berkeluarga hendaknya mengikut sertakan keluarga dalam ibadah ini.
2. Melakukan i'tikaf semampu dan sekuatnya. Seperti yang dilakukan Rasulullah SAW.
3. Menghidupkan malam dengan Qiyam Al-Lail, zikir dan tilawah Al-Qur'an.
4. Bersedekah dan berbagi rezeki.
5. Memperbanyak do'a memohon ampunan dan keselamatan dari Allah SWT. Dengan bacaan:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah kepada Siti 'Aisyah ra (seperti hadits yang diriwayatkan: Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu majah)
F. TANDA-TANDA/CIRI-CIRI LAILATUL QADAR
Dinamakan Lailatul Qadar karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:
- ”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus Rasul-rasul.” (QS. Ad-Dukhan: 3–5)
- ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 4–5)
1. Sabda Rasulullah Shallalahu'alihi Wa Sallam :
- ”Lailatul Qadar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al-Albani.
- ”Sesungguhnya aku diperlihatkan Lailatul Qadar lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar syeitannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
- ”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al-Albani)
- ”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)
- ”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qadar tidak terjadi malam itu, karena Lailatul Qadar terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada di antara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqa’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini”. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)
Lailatul Qadar merupakan rahasia Allah SWT. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah Shallalahu'alaihi wa Sallam :
- ”Carilah dia (Lailatul Qadar) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhari-Muslim).
- ”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul Qadar, kemudian aku dilupakan —atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaih)
- ”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”
- ”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tidak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath-Thayalisi)
Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya Lailatul Qadar itu kecuali Allah SWT maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beri’tikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
CIRI-CIRI ORANG YANG MENDAPATKAN LAILATUL QADAR
Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
- ”Barangsiapa melakukan Qiyam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”
- ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)
Wallahu A’lam
KESALAHAN-KESALAHAN DI SEPUTAR LAILATUL QADAR
Oleh: Syaikh Masyhur bin Hasan Salman
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada Lailatul Qadar itu banyak sekali, jarang yang bisa selamat kecuali yang dipelihara Allah. Di antaranya kesalahan-kesalahan itu:
1. Sibuk mencari dan menyelidiki keberadaannya.
Sibuk mengamati tanda-tanda Lailatur Qadar, sehingga meninggalkan ibadah ataupun perbuatan taat pada malam itu. Betapa banyak orang yang lupa membaca Al-Qur'an, zikir dan lupa mencari ilmu karena sibuk mengamati tanda-tanda Lailatul Qadar. Menjelang matahari terbit, terkadang kita dapati ada yang sibuk memperhatikan dan mengamati matahari untuk mencari tahu, apakah sinar matahari pagi ini terik ataukah tidak. Mestinya orang-orang ini memperhatikan pesan Rasulullah SAW dalam sabda beliau:
- "Semoga (dengan dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar itu) menjadi lebih baik bagi kalian." (HR. Bukhari)
Mereka mengatakan:
- "Hikmahnya, agar manusia bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada seluruh malam dengan harapan ada yang bertepatan dengan Lailatul Qadar.”
Dari uraian di atas, dapat diketahui kekeliruan sebagian orang yang giat beribadah, khususnya qiyamul lail, atau ibadah secara umum pada malam kedua puluh tujuh, dengan memastikan atau seakan memastikan, malam itu adalah Lailatul Qadar. Selanjutnya mereka meninggalkan qiyamul lail dan tidak lagi bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan pada malam-malam lainnya, karena mengira dengan menghidupkan malam ini (malam ke-27), mereka telah mendapatkan pahala ibadah yang lebih baik dari ibadah seribu bulan. Persepsi yang keliru ini menggiring banyak orang untuk berlebih-lebihan dalam melakukan ketaatan pada malam ini. Di antara mereka ada yang tidak tidur, bahkan tidak henti-hentinya shalat di samping memaksakan diri tidak tidur. Ada juga yang shalat dan memperpanjang waktu berdirinya, padahal sedang berjuang keras melawan kantuk, sehingga ada di antara mereka yang tertidur dalam sujudnya. Dalam kasus ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah SAW yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita -berkat karunia dan nikmat-Nya.
2. Di antara kesalahan sebagian kaum muslimin pada malam ini, yaitu sibuk mengatur acara, menyampaikan ceramah.
Sebagian lagi sibuk dengan nasyid-nasyid dan nyanyian puji-pujian, sehingga meninggalkan perbuatan taat. Anda bisa saksikan, ada orang yang begitu bersemangat, berkeliling ke masjid-masjid dengan menyampaikan berita terkini, serta bagaimana upaya pemecahannya. Itu dilakukan hingga menyebabkan pemanfaatan malam itu tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan syariat.
3. Di antara kekeliruan sebagian kaum muslimin yaitu mengerjakan ibadah khusus pada malam itu seperti shalat khusus Lailatul Qadar.
Sebagian lagi senantiasa mengerjakan shalat tasbih secara berjamaah padahal tidak ada dalilnya. Sebagian lagi melaksanakan shalat hifdzul qur'an, padahal tidak ada dasarnya.
Pelanggaran-pelanggaran dan kekeliruan yang berkaitan dengan Lailatul Qadar --yang dilakukan oleh sebagian kaum muslmin-- sangat banyak dan beragam. Kalau kita teliti dan bahas tuntas, tentu pembicaraan ini akan menjadi panjang. Apa yang kami sampaikan di sini baru sebagian kecil saja, semoga bermanfaat bagi penuntut ilmu, pendamba kebenaran dan pencari Al-Haq.
Penutup :
Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu bonus akhirat yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan. Adalah pada 10 hari pertama Allah SWT menurunkan Rahmat-Nya, pada 10 hari kedua diturunkannya maghfirah. Lalu di 10 hari terakhir diturunkannya pembebasan dari api neraka. Ditambah turunnya Lailatul Qadar pada hari-hari ganjil di 10 hari terakhir, malam di mana pahala amal kebajikan yang dilakukan hamba yang beriman dilipatgandakan. Maka lengkap sudah bonus yang Allah SWT berikan kepada Umat Nabi Muhammad SAW ini. Tinggal kita berusaha untuk mendapatkan sebanyak yang kita bisa.
Satu hal yang perlu dicatat bahwa bonus-bonus akhirat ini tidak diundi, dan tidak diperuntukkan bagi golongan, suku, dan ras tertentu, sehingga setiap orang berhak mendapatkannya, sesuai dengan usahanya masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar