Minggu, 05 September 2010

Iman kepada Allah

Aqidah Salafush Shalih - Ahlus Sunnah wal Jama'ah - dalam prinsip-prinsip keimanan terangkum dalam iman dan tashdiq (pembenaran) terhadap rukun iman yang enam sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW dalam hadist Jibril AS, yakni tatkala ia datang menanyakan tentang iman kepada Nabi SAW, maka Rasulullah SAW menjawab: "Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan (hendaknya) pula engkau beriman dengan qadar baik maupun buruk. (HR.Al-Bukhari dan Muslim dalam Kitaabul limaan)

I. Iman kepada Allah
Beriman kepada Allah Ta'ala ialah membenarkan secara pasti tentang keberadaan (wujud) Allah, semua kesempurnaan dan keagungan yang dimiliki-Nya; hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi, hati diiringi dengan kemantapan akan hal itu yang tercermin dari perilakunya, konsekuen dengan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Iman kepada Allah adalah prinsip dan dasar dari aqidah Islam. Semua rukun aqidah, bersumber darinya dan mengikutinya.

Termasuk beriman kepada Allah Ta'ala ialah beriman kepada keesaan-Nya. Uluhiyyah-Nya, dan Asma' dan Sifatnya. Yaitu, dengan menetapkan tiga macam tauhid, meyakininya, dan mengamalkannya:

1) Tauhid Rububiyyah: keyakinan yang pasti bahwa hanya Allah semata Rabb dan Pemilik segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah Yang Maha Pencipta, Dialah yang mengatur alam dan yang menjalankannya, Dialah yang menciptakan para hamba, yang memberi rizki kepada mereka, sertamenghidupkan dan mematikannya. Selain itu, beriman kepada qada' dan qadar-Nya serta keesaan-Nya dalam Dzat-Nya. Ringkasanya, bahwa Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah Ta'ala dalam segala perbuatan-Nya.

Tauhid ini tidak diperselisihkan oleh orang-orang kafir Quraisy dan para penganut aliran dan agama. Maksudnya, mereka semua beri'tiqad bahwa Pencipta alam semesta ini hanyalah Allah SWT berfirman tentang mereka:"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:"Siapakah yang menciptakan Langit dan bumi?"Tentu mereka akan menjawab Allah SWT (QS.Luqman:25)


"Katakanlah:"Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah, Katakanlah:"Maka apakah kamu ingat?" Katakanlah: Siapakah yang empunya langit dan tujuh dan Yang Empunya "Arsy yang besar? Mereka akan menjawab"Kepunyaan Allah. Katakanlah:"Maka apakah kamu tidak bertakwa?"katakanlah:Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari(azab)-Nya, jika kamu mengetahui? "Mereka akan menjawab:"Kepunyaan Allah" Katakanlah:"(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu? dan sesungguhnya ,mereka benar-benar orang yang berdusta.(QS. Al-Mukminun:84-90)

2. Tauhid Uluhiyyah


Yaitu, mengesakan Allah Ta'ala melalui perbuatan para hamba, dinamakan juga dengan tauhid ibadah. Maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa Allah SWT adalah ilah (sesembahan) yang haq dan tidak ada ilah selain-Nya, segala yang diibadahi selain-Nya ketundukan dan ketaatan secara mutlak. Tidak boleh bentuk ibadah apapun diperuntukkan kepada selain-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, do'a, isti'anah (Meminta pertolongan), semua ibadah yang tampak maupun bathin. Ibadah kepada Allah harus dilandasi oleh rasa cinta, cemas, dan harap secara bersamaan. Beribadah kepada-Nya dengan sebagian saja dan meninggalkan sebagian lainnya adalah kesesatan.
"Dan barang siapa beribadah kepada ilah yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya disisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung." (QS.Al-Mukminun : 117)
Tauhid Uluhiyah adalah inti dakwah yang diserukan oleh para Rasul . Pengingkaran terhadap hal ini merupakan penyebab dari berbagai malapetaka yang menimpa ummat-ummat terdahulu.

Tauhid Uluhiyyah
merupakan awal dan akhir agama, bathin dan lahirnya, juga merupakan tema pertama dakwah para Rasul dan yang terakhir. Oleh karenanya, diutuslah para Rasul, diturunkan kitab-kitab samwi, disyari'atkan jihad, dibedakan antara orang Muslim dengan orang kafir, dan penghuni Surga dengan Neraka

Menurut Aqidah Salafus Shalih - Ahlus Sunnah wal Jama'ah tauhid uluhiyyah tidak terlealisir kecuali bila ada dua prinsip:

Pertama: Agar semua bentuk ibadah hanya ditujukan kepada-Nya tidak boleh kepada yang selain-Nya dan makhluk tidak diberikan hak apa pun dari hak-hak Pencipta dan ciri-ciri khas-Nya

Ibadah: Mencakup perkataan hati dan lisan, atau juga berupa perbuatan hati dan anggota tubuh.
Allah Ta'ala berfirman:"katakanlah:"sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah) (QS.Al-An'aam:162-163)

Kedua: Ibadah itu harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya SAW
  • Mentauhidkan Allah SWT dalam ibadah, tunduk, dan taat adalah realisasi dari syahadat: "Laa ilaha illallahu (tidak ada ilah yang diibadahi kecuali Allah)
  • Mutaba'ah (mengikuti) Rasulullah SAW dan mentaati apa yang diperintahkannya serta yang dilarangnya realisasi dari syahadat:"Muhammadur Rasulullah (Muhammad adalah utusan Allah)
3. Tauhid Asma' wa Sifat

Yaitu, keyakinan dengan pasti bahwas Allah SWT mempunyai Asma-ul Husna (nama-nama yang baik) dan sifat-sifat yang mulia. Dia memiliki semua sifat yang sempurnadan suci dari segala kekurangan. Dialah yang Maha Esa dengan sifat-sifat tersebut, yang tiodak dimiliki oleh makhluk-Nya

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa Allah SWT Yang Awal, yaitu yang telah ada sebelum segala sesuatu ada; Yang Akhir, yaitu yang tetap ada setelah sesuatu musnah; Yang Zhahir, yakni tiada diatas-Nya suatu apapun; dan Yang Bathin, yakni tiada suatu apa pun yang menghalangi-Nya

Firman Allah SWT:"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin;dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu" (QS.Al-Hadiid:3)

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa Allah Ta'ala itu beristiwa (bersemayan) diatas Arsy yang berada diatas langit yang ketujuh, terpisah dari makhluk-Nya, namun mengetahui segala sesuatu seperti Allah firmankan tentang diri-Nya dalam Kitab-Nya yang mulia dalam tujuh ayat tanpa menjelaskan kaifiyyah-Nya yaitu : surat (al-A'raaf:54), (Yunus:3). (ar-Ra'd:2), (Thaahaa:5), (al-Furqaan:59),(as-Sajdah:4) dan (al-Hadiid:4)

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa orang-orang Mukminin akan melihat Rabb mereka di akhirat dengan mata kepala mereka dan mereka menngunjungi-Nya. Allah akan berbicara dengan mereka dan sebaliknya mereka akan berbicara dengan-Nya.

Allah berfirman: "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri kepada Rabbnyalah mereka melihat" (QS.Al-Qiyaamah:22-23)

Mereka akan melihat-Nya seperti halnya melihat bulan pada malam bulan purnama. Mereka pun tidak berdesak-desakan saat melihat-Nya, seperti yang disabdakan Nabi SAW: "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan dimalam bulan purnama, kalian tidak akan berdesak-desakan saat melihat-Nya." (Muttafaq'alaih)

Allah Ta'ala turun kelangit dunia pada sepertiga malam yang terakhir dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Nabi SAW bersabda: "Rabb kita Tabaaraka wa Ta'aala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman:"Siapa yang berdo'a kepada-Ku, pasti Aku akan memperkenankan do'anya; siapa yang meminta kepada-Ku, pasti Aku memberinya; dan siapa yang memohon ampunan kepada-ku pasti Akuy mengampuninya" (Muttafaq'alaih)


Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa Allah Ta'ala datang pada hari akhir untuk mengadili diantara para hamba-Nya secara hakiki sesuai dengan keagungan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:"Jangan (berbuat demikian) apabila bumi di goncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang Malaikat berbaris-baris (QS.Al-Fajr: 21-22)


Bahwasanya Allah Ta'ala Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Pencipta segala sesuatu dan Maha Pemberi rizki semua yang hidup

"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan kamu rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (QS.AL-Mulk: 14)

"Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rizki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh" (QS.Adz-Dzaariyat : 58)

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa Allah Ta'ala itu beristiwa di atas Arsy yang berada diatas langit yang ketujuh, terpisah dari makhluk-Nya, namun mengetahui segala sesuatu, seperti yang Allah firmankan tentang diri-Nya dalam kitab-Nya yang mulia dalam tujuh ayat tanpa menjelaskan kaifiyyah-Nya yaitu secara berurutan : al-A'raaf:54, Yunus : 3, ar-Ra'd : 2, Thaahaa:5, al-Furqaan:59, as-Sajdh:4, al-Hadiid:4

Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahhui kadar besarnya al-Arsy kecuali Allah, sedangkan al-Kursi dibanding al-Arsy bagaikan gelang yang terletak dipadang pasir, ukurannya seluas langit dan bumi. Allah tidak membutuhkan al-Arsy dan al-Kursi, Allah ber-istiwa' diatas al-Arsy bukan karena membutuhkannya, tetapi hal itu karena ada hikmah yang hanya diketahui oleh Allah.

Allah Maha suci dari sifat membutuhkan kepada al-Arsy, apa lagi kepada apa yang dibawahnya.

Allah Ta'ala menciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya keduanya adalah kanan dan keduanya terbuka, Allah memberi nafkah sebagaimana Dia kehendaki. Seperti yang Allah sifati sendiri untuk diri-Nya dalam Firman-Nya : "Orang-orang Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu.Sebenarnya tanggan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki." (QS.Al-Maa-ida:64)

begitu pula firman-Nya: "Apakah yang menghalangi kamu (iblis) sujud kepada yang telah kuciptakan dengan kedua tangan-ku?" (QS.Shaad : 75)

Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan bagi Allah pendengaran, penglihatan, ilmu, kekuasaan, kekuatan, kemuliaan, kebersamaan (ma'iyyah), firman, hidup,telapak kaki, betis, tangan, dan lain-lain dari sifat-sifat yang telah Allah sifatkan sendiri untuk diri-Nya dalam kitab-Nya yang mulia dan melalui lisan Nabi-Nya SAW, dengan kaifiyyah (Tata cara).... dalam Firman-Nya


1. "Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua (Musa dan Harun), Aku mendengar dan melihat." (QS. Thaahaa:46)

2. "Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung "(QS.An-Nisaa:164)

3. "Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemulian"(QS.Ar-Rahmaan:27)

4. "Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa (QS. Al-Qalam: 42)

Ahlus Sunnah wal Jama'ah megimani bahwa orang-orang Mukminin akan melihat Rabb ,ereka di akhirat dengan mata kepala mereka dan mereka mengunjungi-Nya. Allah akan berbicara dengan mereka dan sebaliknya mereka akan berbicara dengan-Nya.

Allah berfirman: " Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri dan
dan Kepada Rabbnyalah mereka melihat.(QS.Al-Qiyaamah:22-23)  

Mereka akan melihat-Nya seperti halnya melihat bulan pada malam bulan purnama. Mereka pun tidak berdesak-desakan saat melihat-Nya, seperti yang disabdakan Nabi SAW " Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan di malam bulan purnama, kalian tidak akan berdesak-desakan saat melihat-Nya" (Muttafaq ' alaih) HR.Al-Bukhari No. 554

Allah Ta'ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Nabi SAW bersabda:

"Rabb kita Tabaaraka wa Ta'aala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman:" Siapa yang berdo'a kepada-Ku, pasti Aku akan memperkenankan do'anya; siapa yang memohon ampunan kepada -Ku pasti Aku mengampuninya" (Muttafaq'alaih)  HR.Al-Bukhari no.7494

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa Allah Ta'ala datang pada hari akhir untuk mengadili diantara para hamba-Nya secara hakiki sesuai dengan keagungan-Nya. Allah Ta'ala berfirman: " Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan Malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya... (QS.Al-Baqarah: 210)

Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dalam semua hal tersebut adalah mengimani secara sempurna dan menerima (taslim) apa yang dikabarkan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, Imam asy-Syafi'i RA juga berkata:" Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya sesuai dengan apa yang  yang dimaksudkan Allah. aku beriman kepada Rasul-Nya dan apa yang datang darinya sesuai dengan apa yang dimaksudkan Rasulullah.



























































































Tidak ada komentar: